>
Tampilkan postingan dengan label Makanan Ikan Mas Koki. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makanan Ikan Mas Koki. Tampilkan semua postingan

Makanan Buatan 2

Bahan yang masih kasar sebaiknya digiling dahulu dan disaring dengan ayakan. Setelah semua bahan dihaluskan dan diayak, barulah dilakukan penimbangan berat sesuai denga hasil perhitungan di Makanan Buatan 1. Penimbangan bahan sebelum proses penghalusan dan pengayakan sering menghasilkan komposisi yang berbeda dari perhitungan, sebab selalu ada bahan yang tersisa di dalam alat pengayak. Keuntungan makanan buatan yang terbuat dari bahan halus adalah tidak mudah tenggelam dan lebih tahan lama di dalam air. Untuk menghaluskan bahan makana yang masih kasar dapat digunakan blender atau penggiling daging. Bagi petani tradisional penghalusan bahan makanan dilakukan dengan manual, yaitu menggunakan alat penumbuk padi. 

Setelah masing-masing bahan makanan ditimbang sesuai dengan kebutuhan, campurkan semuanya kecuali dedak dalam sebuah wadah besar dan panaskan selama 15 menit. Tambahkan air mendidih sedikit demi sedikit sambil telur diaduk sampai seluruh adonan menjadi pasta. Angkatlah wajan tersebut dari atas kompor dan selajutnya campurkan dedak tadi sambil terus diaduk sampai rata.

Untuk memenuhi syarat kesehatan, ke dalam adonan tadi tambahkan mineral dan vitamin masing-masing sebaiknya 0.5 dan 1.5% dari berat total makanan. Penambahan vitamin dan mineral sebaiknya dilakukan setelah adonan dingin. Langkah selanjutnya adalah mencetak adonan tersebut menjadi pelet yang ukurannya sesuai dengan kebutuhan. Kemudian pelet tersebut dipotong-potong sepanjang 3 cm dan dijemur di bawah sinar matahari hingga benar-benar kering. Jika sudah kering, pelet diremas-remas dengan tangan hingga terbentuk potongan-potongan kecil dan siap ditebarkan ke kolam sebagai makanan ikan. Satu hal yang sangat penting dalam pembuatan pelet adalah masalah penyimpanan. Pelet yang telah dijemur harus disimpan dalam tempat yang kering agar kandungan proteinnya tidak berubah dan terhindar dari proses pembusukan.

Makanan Buatan 1

Pada bagian ini akan dijelaskan secara singkat mengenai cara pembuatan makanan berbentuk pelet. Istilah pelet digunakan untuk menyatakan bentuk makanan berupa potongan-potongan kecil berbentuk pipa, jadi bukan berbentuk butiran atau tepung. Pelet mempunyai ukuran diameter tertentu dan biasanya diberikan pada ikan yang sudah cukup besar. 

Langkah pertama yang harus ditempuh dalam pembuatan makanan berbentuk pelet adalah menyusun komposisi makanan berdasarkan kadar proterin yang diinginkan. Untuk membantu mempermudah dalam penyusunan komposisi makanan, petani perlu dilengkapi dengan pengetahuan  mengenai kandungan protein dari beberapa jenis bahan makanan utama yang sering digunakan sebagai makanan ikan. Berikut ini disajikan komposisi dari beberapa jenis bahan makanan yang umum digunakan sebagai komponen dalam pembuatan makanan ikan.

Untuk keperluan penentuan komposisi makan yang akan dibuat, jenis bahan makanan dikelompokkan ke dalam protein basal dan protein suplemen. Protein basal adalah bahan makan ikan baik nabati maupun hewani yang kandungan proteinnya di bawah 20 %. Protein suplemen adalah bahan makanan yang kandungan proteinnya di atas 20%.

Seandainya hendak membuat makanan buatan dengan kandungan protein sebesar 25% dan terdiri dari campuran tepung ikan, tepung darah, tepung kedele, dedak dan tepung terigu, maka komposisi dari setiap komponen bahan dapat dihitung berdasarkan metode kuadrat, yaitu:
-   rata-rata protein basal: 1/3 (13.6 + 11.35 + 8.9) = 11.28%
-   rata-rata protein suplemen:  1/2 (22.65 + 71.45) = 47.05%
Bila jumlah makanan yang akan dibuat adalah 100 kg, berat dari:
    Protein basal          =  22.05/35.05 X 100 kg = 62.91 kg
    Protein suplemen  =  13/35.05 X 100 kg = 37.09 kg
Jika berat setiap jenis komponen bahan makanan adalah:
    Tepung ikan            =  22.65/94.1 X 37.09 kg = 8.93 kg
    Tepung darah          =  71.45/94.1 X 37.09 kg = 28.16 kg
    Tepung kedele        =  13.6/33.84 X 62.91 kg = 25.28 kg
    Tepung terigu         =   8.9/33.84  X 62.91 kg  =  16.55 kg
    Dedak                     =   11.35/33.84 X 62.91 kg = 21.08 kg

Ulat Hongkong

Akhir-akhir ini ulat hongkong mulai digemari oleh petani ikan hias sebagai salah satu jenis makanan alami. Konon, menurut pedagang ikan hias, ulat hongkong selain digunakan sebagai makanan berprotein tinggi juga dapat membantu mempercepat munculnya warna-warna indah pada tubuh ikan hias salah satunya ikan mas koki. Ulat hongkong sangat mudah dibudidaya, bahkan didalam ruangan sempit pun dapat tumbuh dengan baik. Adapun tahapan yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut:
  • Sediakan kotak yang terbuat dari bahan tripleks dengan ukuran 40 X 40 cm dan tingginya 20 cm. Agar lebih praktis, dapat juga digunakan waskom/ember plastik yang berukuran sedang untuk digunakan sebagai wadah pemeliharaan. Sebaiknya pada bibir wadah diberi solatif (isolasi) untuk mencegah ulat hongkong atau kumbang yang akan lari, terutama pada kotak yang terbuat dari tripleks.
  • Sebagai media untuk pertumbuhan ulat hongkong, pada bagian dasar wadah ditebarkan campuran antara ampas tahu dan dedak. Jika sulit mendapatkan bahan-bahan tersebut, media pertumbuhan dapat dibuat dengan menggunakan pakan ayam ras. Tebal media pertumbuhan kurang lebih 3 cm. Sebaiknya semua bahan disaring atau diayak dahulu dan hanya bagian yang halus saja digunakan sebagai media pertumbuhan.
  • Selanjutnya adalah memasukkan 100 gram ulat hongkong ke dalam wadah. Benih ulat hongkong ini dapat dibeli pada pedagang burung oceh. Jika kondisi lingkungan cukup menunjang, ulat hongkong ini akan terus tumbuh dan berkembang biak.
  • Selama proses pertumbuhan, ulat hongkong akan tetap menghasilkan kotoran karena akan terjadi proses metabolisme. Dengan demikian media pertumbuhan akan menjadi kotor (tampak hitam karena penuh dengan kotoran) sehingga perlu diganti dengan yang baru. Pergantian media tersebut dapat dilakukan dengan mengayak seluruh media pertumbuhan, sehingga telur, ulat hongkong (larva) atau kumbang yang ada akan tersaring dan dapat segera dipindahkna ke media pertumbuhan yang baru.
  • Siklus kehidupan ulat hongkong hanya 14 hari, dengan demikian pemanenan dapat dilakukan setiap 14 hari. Proses pemanenan tidak berbeda jauh dengan cara pergantian media pertumbuhan. Ulat hongkong yang tertinggal di dalam ayakan dapat diambil dan diberikan kepada anak-anak mas koki.

Budidaya Nyamuk

Hingga saat ini masih sedikit sekali buku-buku yang menerangkan cara-cara membudidayakan  nyamuk. Oleh karena itu, pembahasan mengenai budidaya nyamuk berikut ini sebagian besar didasarkan pada pengalaman dari beberapa petani ikan hias yang telah berhasil melaksanakannya.
Cara membudidayakan nyamuk tidaklah sulit. Dengan modal semangat, rajin dan ulet, kemungkinan untuk berhasil memelihara nyamuk cukup besar. Adapun cara membudidayakan nyamuk adalah sebagai berikut:
  • Sediakan beberapa wadah yang dapat dipergunakan untuk menampung air, misalnya panci, ember plastik, kuali dari tanah liat atau kaleng bekas. Wadah yang digunakan tidak perlu bagus atau baru, tetapi cukup berupa barang-barang bekas yang sudah tidak terpakai. Jika menggunakan wadah dari kaleng sering menimbulkan kerugian, sebab dapat terjadi proses pengkaratan yang dapat mengganggu kehidupan dan pertumbuhan jentik nyamuk. Garis tengah wadah sebaiknya tidak kurang dari 30 cm. Semakin lebar luas permukaan wadah biasanya akan menghasilkan produksi jentik nyamuk yang lebih tinggi. Jumlah wadah yang perlu disediakan untuk membudidayakan nyamuk tergantung pada tingkat produksi jentik nyamuk yang diharapkan.
  •  Isilah wadah yang telah disediakan dengan  air bekas cucian beras (dari air bilasan pertama sampai bilasan kedua). Tinggi permukaan air bekas cucian beras pada setiap wadah sebaiknya berkisar antara 10 - 30 cm.
  • Selanjutnya semua wadah yang telah diisi air segera diletakkan pada tempat yang agak remang-remang, misalnya dibawah pohon. Kondisi lingkungan yang agak remang merupakan tempat paling disenangi oleh nyamuk-nyamuk yang akan bertelur. Agar suasananya tetap lembab, sebaiknya dipilih tempat yang berada di dekat selokan. Untuk menghindari debu maupun tetesan air hujan, sebaiknya wadah dilengkapi dengan penutup. Namun perlu diperhatikan, jangan sampai penutup tersebut menghalangi keluar masuknya nyamuk ke dalam wadah.
  • Setelah dua atau dua hari kemudian akan terbentuk lapisan tipis pada permukaan air di dalam wadah. Apabila setelah empat hari lapisan tipis ini belum juga terlihat, maka usaha budidaya nyamuk sudah dapat dipastikan mengalami kegagalan. Hal ini kemungkinan disebabkan karena air bekas cucian beras terlalu encer  (kurang putih). Hanya ada satu cara untuk mengatasinya, yaitu dengan mengganti air bekas cucian beras yang baru  dan lebih kental.
  • Bila kondisi lingkungan menunjang, maka akan segera terlihat sejumlah telur nyamuk dipermukaan air. Telur-telur ini tampak melekat satu sama lain  dan membentuk sebuah kolani yang mirip seperti perahu dengan ukuran antara 0,5 - 1,5 cm. Telur-telur nyamuk dapat diberikan langsung kepada anak-anak mas koki dengan cara menebarkannya ke kolam pemeliharaan anak-anak mas koki atau dibiarkan dahulu hingga menetas, kemudian jentik (larva) nyamuk yang ada diberikan kepada anak-anak mas koki. Anak-anak mas koki dapat diberi makanan jentik nyamuk setelah mencapai usia 1 - 2 minggu.
  • Pemanenan telur nyamuk dapat dilakukan dengan menggunakan sebatang lidi yang panjangnya 40 cm. Bagian ujung lidi ini dibuat runcing agar mudah memasukkannya ke dalam air. Setelah dimasukkan ke dalam air, lidi digeser ke arah telur nyamuk. Adanya gaya adhesi menyebabkan telur akan melekat ke lidi sehingga mudah dipindahkan ke kolam mas koki. Jentik nyamuk dapat dipanen dengan menggunakan saringa halus.

Kultur Cacing

1 ) Cacing Halus
     Cacing halus sangat cocok untuk diberikan sebagai makanan alami mas koki, terutama pada masa-masa awal dari kehidupannya. Cacing halus biasanya banyak terdapat di tanah yang agak berair, seperti tanah sawah, timbunan sampah atau saluran air. Untuk keperluan budidaya cacing halus, cukup disediakan beberapa buah piring plastik yang bergaris besar tengah 20 cm sebagai wadah budidaya. Sementara itu kita buat media pertumbuhan cacing yang terdiri dari campuran tepung beras dan susu. Media pertumbuhan ini ditempatkan pada piring plastik kurang lebih setebal 1 - 2 cm. Fungsinya adalah sebagai pengganti lapisan tanah.

Selanjutnya masukkan benih cacing halus ke dalam media pertumbuhan. Benih cacing halus dapat diperoleh dari pedagang ikan hias atau mencarinya di tempat-tempat cacing tersebut biasa hidup. Jika kondisi lingkungan cukup menunjang cacing akan tumbuh dengan baik dan melakukan aktivitas perkawinan yagn akan menghasilkan telur sebagai bakal individu baru. Dalam jangka waktu satu atau dua minggu setelah benih dimasukkan, cacing sudah dapat dipanen. Pemanenan dapat dilakukan dengan cara mengayak media pertumbuhan sehingga diperoleh cacing halus, sedangkan media pertumbuhan yang mengandung telur dimasukkan kembali ke wadah budidaya. Media pertumbuhan harus segera ditambah, sebab telur akan segera menetas dan individu cacing yang muda memerlukan makanan. Cacing hasil pemanenan dapat diberikan langsung kepada ikan sebagai makanan alami atau diolah dahulu menjadi tepung cacing untuk digunakan sebagai salah satu komponen dalam makanan buatan.
 
 
2 ) Cacing Kecil
     Cacing ini mempunyai ukuran yang relatif lebih besar bila dibandingkan dengan halus, yaitu kurang lebih 8 mm panjanya. Dengan demikian, cacing kecil biasa diberikan pada anak-anak mas koki yang telah mencapai ukuran relatif lebih besar. Bila dibandingkan dengan cacing halus, teknik budidaya cacing kecil tidak  berbeda jauh. Perbedaannya hanya terletak pada wadah budidaya dan media pertumbuhan yang digunakan. 

Sebagai wadah budidaya, petani biasanya menggunakan pot dari tanah liat yang mempunyai garis tengah 12,5 cm. Pot ini diletakkan pada sebuah kotak kayu yang telah diberi alas tumpukan lumut segar. pemberian tumpukan lumut ini dimasukkan untuk mempertahankan kondisi lingkungan yang lembab dan basah. Bila kondisi lingkungan wadah budidaya menjadi kering karena panas yang terlalu terik, perlu dilakukan penyiraman  dengan air terhadap tumpukan lumut di dalam kotak agar cacing tidak mati kekeringan.

Dibagian dasar pot ditebarkan media pertumbuhan yang terdiri dari campuran ragi dengan bubur tepung beras. Media pertumbuhan ini ditutup dengan gelas, sehingga pada bibir gelas inilah cacing kecil kelak akan berkumpul. Setelah benih ditebarkan dan dipelihara selama 1 - 2 minggu, cacing sudah dapat dipanen. Pemanenan dapat dilakukan secara berulang-ulang dengan cara menangkap cacing yang berkumpul di bibir gelas. Bila produksi cacing telah menurun, sebaiknya dilakukan penambahan media pertumbuhan atau dilakukan pemanenan secara total.

Kultur Infusoria

Infusoria merupakan salah satu anggota dari filum protosoa yang termasuk ke dalam subkelas ciliata, yaitu hewan-hewan bersel satu yang dilengkapi dengan bulu-bulu getar (silia). Beberapa contoh yang cukup terkenal adalah Paramaecium caudata, Colpoda culculus, Didinium nasutum, dan Colpidium campylum. 
 
Upaya untuk memproduksi infusoria melalui usaha budidaya dapat dilakukan sebagai berikut:
  • Masukkan daun yang mudah hancur (daun kol, seledri, talas dan lai-lain) ke dalam panci berisi air tawar, Usahakan agar seluruh daun tersebut tenggelam di dalam air.
  • Rebuslah panci tersebut di atas api sampai mendidih selama 10 - 15 menit. Selanjutnya cairan yang ada disaring agar kotorannya dapat dipisahkan. Cairan hasil penyaringan inilah yang kelak akan digunakan sebagai media untuk pertumbuhan infusoria. Selain menggunakan daun dari tanaman tersebut diatas, media pertumbuhan infusoria dapat juga diperoleh dari hasil perendaman jerami yang telah dididihkan selama 15 menit. Untuk budidaya skala besar tidak perlu dilakukan perebusan media pertumbuhan, sebab akan menyulitkan.
  • Masukkan bibit infusoria ke media pertumbuhan dengan cara menuangkan 2 - 3 sendok makan air selokan yang biasanya banyak mengandung infusoria.
  • Simpanlah media pertumbuhan yang telah diisi bibit infusoria dalam keadaan terbuka selama 2 - 3 hari. Bila kondisi lingkungan mendukung, setelah 2 - 3 hari akan terlihat pertumbuhan infusoria yang ditandai dengan timbulnya lapisan putih agak keruh di permukaan air.
  • Pemanenan infusoria dapat dilakukan dengan menggunakan pisau atau daun pisang untuk mengambil lapisan putih agak keruh tersebut. Infusoria dapat langsung diberikan kepadan anak-anak mas koki sampai umur 20 hari atau lebih.

Budidaya Daphnia

Daphnia merupakan salah satu anggota keluarga udang renik paling primitif yang termasuk ke dalam filum arthropoda, kelas crustacea, ordo phylopoda. Karena termasuk udang renik, daphnia  mempunyai ukuran lebih kecil, yaitu berkisar antara 1000 - 5000 mikron. Di alam, daphnia merupakan organisme hewan penghuni habitat air tawar, terutama di danau, waduk, rawa, kolam atau genangan air lainnya. Karena dapat hidup disemua habitat air tawar, daphnia sangat mudah dipelihara. Siklus daphnia sangat singkat. Rata-rata umur maksimum yang dapat dicapai oleh daphnia adalah 12 hari. Jika temperatur berkisar antara 22 – 31oC dan derajat keasaman (pH) air antara 6,6 - 7,4, daphnia akan tumbuh menjadi dewasa hanya 4 hari.

Untuk mendapatkan daphnia secara buatan, dapat dilakukan usaha budidaya sebagai berikut:
  1. Sediakan sebuah bak terbuat dari bahan semen, plastik, kayu, fibre glass  yang mempunyai ukuran satu meter kubik, untuk bak pemeliharaan daphnia. Letakkan bak tersebut di tempat yang agak terlindung dari pengaruh sinar matahari secara langsung.
  2. Setelah dibersihkan, isilah bak tersebut dengan air tawar hingga permukaan air mencapai ketinggian 60 cm.
  3. Sementara itu pada tempat lain campurkan 10 kg kotoran ayam yang telah dikeringkan ke dalam 90 liter air dan biarkan selama 5 - 10 hari sambil terus diberi aliran udara dengan menggunakan aerator.
  4.  Pada wadah yang lain lagi, tumbuklah bungkil kelapa sampai halus dan diayak.
  5. Campurkan 240 gram bungkil kelapa yang telah dihaluskan ke dalam 1.200 ml larutan kotoran ayam. Setelah diaduk sampai rata, adonan tersebut dimasukkan ke dalam kantong yang terbuat dari kain. Selanjutnya kantong tersebut diperas dan cairan yang diperoleh segera dimasukkan ke bak pemeliharaan.
  6. Setelah dibiarkan 18 -24 jam, bak pemeliharaan sudah dapat diisi bibit daphnia. Bibit daphnia ini dapat diperoleh dari alam  atau dengan cara memintanya ke Balai Budidaya Air Tawar setempat.
  7. Jika kondisi lingkungan cukup baik, daphnia akan terlihat pertumbuhannya setelah dipelihara selama 1 minggu.
  8. Pemanenan daphnia dapat dilakukan dengan menggunakan scoop net  yang mempunyai mata jaring cukup halus. Pemanenan sebaiknya dilakukan pada malam hari atau pagi hari sebelum matahari terbit. Hal ini dimaksudkan untuk mempermudah penangkapan daphnia. Daphnia yang diperoleh dari hasil pemanenan bisa langsung diberikan kepada mas koki atua disimpan di dalam lemari pendingin sebagai cadangan makanan.

Pembuatan Makanan Alami

Makanan alami dapat diperoleh dari alam tempat ia tumbuh dengan sendiriny tanpa bantuan manusia, atau yang diperoleh secara buatan usaha budidaya. Tentu saja makanan yang diperoleh secara buatan mempunyai kualitas lebih baik dibandingkan produk alami. Hal ini disebabkan oleh:
  • Produksi makanan alami lebih homogen, karena tidak tercampur dengan organisme lain.
  • Kesinambungan produksinya lebih terjamin.
  • Dapat terhindar dari pengaruh polusi lingkungan.

Jenis Makanan

Hampir semua jenis makanan disukai oleh mas koki. Secar alami, anak-anak mas koki cenderung memanfaatkan organisme hewan kecil sebagai makanannya. Setelah dewasa ia mulai menyukai tanaman air yang hidup di kolam, meskipun demikian mas koki dewasa tetap menyukai organisme hewan. Jika anak-anak mas koki telah tumbuh menjadi dewasa, sebaiknya kolam diberi tanaman air yang agak lunak sehingga mudah dicerna oleh mas koki. Dapat juga diberikan makanan berupa organisme hewan dengan dosis lebih tinggi dibandingkan dosis yang diberikan kepada anak-anak mas koki. Organisme hewan yang biasa diberikan sebagai makanan mas koki antara lain daphnia, infusoria, cacing, jentik nyamuk dan ulat hongkong. Penggunaan organisme hewan sebagai makanan mas koki membutuhkan biaya yang relatif tinggi. Oleh karena itu, petani mas koki cenderung memberi makan berupa makanan buatan atau kombinasi antara makanan buatan dengan makanan organisme hewan.

Pemberian makan dengan cara kombinasi ternyata sudah memberikan hasil yang cukup baik. salah satu cara untuk mengatasi tingginya biaya yang dikeluarkan jika hendak menggunakan organisme hewan sebagai makanan mas koki adalah mengusahakan pengadaannya melalui budidaya. Berdasarkan pertimbangan tertentu, beberapa petani sengaja memberikan makanan buatan kepada mas koki yang dipelihara. Ukuran dari makanan buatan harus disesuaikan dengan ukuran leher mulut mas koki. Mas koki kecil umumnya diberi makanan berupa larutan, semakin besar ukurannya semakin bertambah besar pula ukuran makanan buatan yang diberikan. Rebusan kuning telur ayam yang dilarutkan ke dalam air merupakan makanan buatan yang pertama kali diberikan kepada anak-anak mas koki. Larutan kuning telur ini memiliki ukuran particel cukup halus dan disuaki oleh anak-anak mas koki. Untuk mas koki berukuran besar, petani biasanya memberikan makanan buatan berupa pelet dengan ukuran yang disesuaikan dengan besar mulutnya.

Dosis Dan Periode Pemberian Makanan

Jumlah makanan (dosis) yang diberikan pada ikan dapat mempengaruhi jumlah makanan yang diserap oleh tubuh. Demikian pula halnya dengan waktu pemberian makanan. Dosis makanan yang diberikan pada ikan jangan terlalu berlebihan agar tidak menciptakan kondisi buruk di dalam air, terutama jika memberikan makanan buatan. Dosis makanan yang umum diberikan dalam satu hari berkisar antara 3 - 5% dari berat total ikan yang dipelihara. Makanan ini tidak diberikan sekaligus, tetapi diberikan secara bertahap. Jumlah makanan yang diberikan pada setiap waktu makan tergantung dari frekuensi pemberian. Artinya jika frekuensi pemberian makanan dilakukan empat kali sehari, maka jumlah yang diberikan pada setiap waktu makan adalah satu per empat dari dosis yang telah ditentukan. Untuk menghindari pemberian makanan secara berlebihan, maka pemberian makanan harus dihentikan apabila  25% dari jumlah ikan yang dipelihara telah meninggalkan tempat makannya.
Pemberian makanan yang berlebihan terutama makanan buatan, dapat menyebabkan masalah baru, sebab sisa makanan yang mengendap akan mengalami proses pembusukan. Akibatnya, kandungan oksigen di kolam akan menurun dan timbul gas-gas beracun yang dapat membahayakan kehidupan ikan. Penggunaan makanan hidup relatif lebih aman, sebab meskipun diberikan pada jumlah berlebihan tidak menimbulkan efek yang berbahaya. Semua hewan membutuhkan waktu tertentu untuk mencerna makanan yang ada di dalam lambungnya. Pada ikan mas koki, waktu yang dibutuhkan untuk mencerna makanan dalam lambungnya berkisar antara 3 - 4 jam. Berdasarkan kenyataan ini agar makanan agar makanan yang diberikan dapat dikonsumsi lebih banyak sebaiknya mas koki  baru diberi makan berikutnya 3 - 4 jam kemudian. Dengan demikian, frekuensi pemberian makanan pada mas koki dapat dilakukan sebanyak 6 -8 kali dalam sehari semalam, namun untuk mudahnya petani hanya memberi makan dua sampai tiga kali sehari semalam.

Alternatif lain yang dianggap cukup baik adalah memberikan makanan berupa kombinasi antara makanan buatan dan alami. Makanan buatan diberikan pada siang hari dan makanan alami diberikan pada malam harinya dengan jumlah lebih banyak. Jika keadaan memungkinkan, sebaiknya pemberian makanan diberikan secara mekanik dengan peralatan yang dilengkapi timer (alat pengatur waktu) untuk mengatur kapan makanan harus di alirkan ke kolam. Ikan kecil mempunyai kecepatan mencerna makanan lebih tinggi dibandingkan dengan ikan yang lebih besar. Oleh karena itu ikan kecil harus lebih sering diberi makanan daripada ikan yang lebih besar.

Peranakan Dan Sumber Makanan

Guna Mempertahankan kelangsungan hidupnya, ikan membutuhkan semua komponen makanan dengan jumlah tertentu, seperti protein, lemak, karbohidrat, vitamin dan mineral. Ikan sangat efisien dalam mengkonsumsi protein dibandingkan dengan lemak atau karbohidrat, baik protein hewani maupun nabati. Meskipun umumnya lebih mahal, kualitas protein hewani relatif lebih baik dibandingkan dengan protein nabati, karena kandungan asam aminonya lebih lengkap. Berdasarkan sumbernya makanan dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu makanan alami dan makanan buatan. Makanan alami adalah makanan yang terbentuk secara alamiah, baik di alam maupun di lingkungan tertentu yang sengaja disiapkan oleh manusia. sedangkan makanan buatan adalah makanan yagn dibuat oleh manusia dengan bahan dan komposisi tertentu sesuai dengan kebutuhan. Menurut beberapa ahli perikanan, penggunaan makanan alami dianggap lebih menguntungkan, karena dapat menghasilkan pertumbuhan yang lebih baik di bandingkan dengan penggunaan makanan buatan. Hal ini mungkin disebabkan oleh kandungan gizi dari makanan alami yang lebih baik dan tidak menimbulkan masalah penurunan kualitas air berupa proses pembusukan dari sisa makanan buatan di dasar kolam, sering mengakibatkan timbulnya gas-gas beracun, penurunan kandungan oksigen yang larut di dalam air dan meningkatnya serangan penyakit.

Berdasarkan fungsinya, makanan dapat dibagi menjadi 3 golongan besar, yaitu:
  1. Makanan Utama, yaitu makanan yang diberikan kepada ikan untuk digunakan sebagai sumber energi utama bagi kebutuhan hidupnya.
  2. Makanan Tambahan, yaitu makanan yang diberikan kepada ikan untuk digunakan sebagai sumber energi tambahan  karena energi yang berasal dari makanan utama dianggap kurang memadai.
  3. Makanan Suplemen, yaitu makanan yang diberikan kepada ikan dengan tujuan untuk melengkapi unsur-unsur tertentu yang mungkin tidak diperoleh dari makanan utama maupun makanan tambahan.
Peranan makanan sebagai sumber energi bagi ikan sangat dipengaruhi oleh jumlah dan kualitas makanan yang diberikan. Makanan dengan kualitas yang baik akan menghasilkan pertumbuhan yang relatif lebih baik dibandingkan dengan pertumbuhan ikan yang diberi makanan berkualitas rendah.
 
Support : Digital Areas | MegaCara
Copyright © 2011. Budidaya Ikan Mas Koki - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger