Pemilihan Induk Untuk Perkawinan Modern

Seperti pada perkawinan tradisional, pemilihan induk mas koki yang akan dikawinkan dengan teknik hipofisasi perlu diperhatikan beberapa syarat tertentu. Induk yang digunakan harus benar-benar matang kelamin cukup umur, sehat, tidak mengalami stres atau luka karena salah penganan. Selain itu, induk mas koki sebaiknya juga memiliki bentuk tubuh yang normal dan warna yang indah serta sedang digemari oleh masyarakat.

Perkawinan Modern

Selain dengan cara tradisional, perkawinan mas koki juga dapat dilakukan dengan cara lebih modern, yaitu menggunakan teknik hipofisasi. Teknik ini merupakan salah satu cara untuk merangsang induk ikan agar mau kawin dengan cara menambahkan sejumlah tertentu hormon gonadotropin.


Dibandingkan dengan cara tradisional, teknik hipofisasi ini dianggap lebih menguntungkan, sebab:
  • Dapat merangsang induk jantan dan betina secara bersamaan sehingga proses pengeluaran telur dan sperma akan berlangsung dalam waktu yang sama. Dengan demikian kemungkinan terjadinya proses pembuahan telur oleh sperma menjadi semakin besar.
  • Memungkinkan terjadinya perkawinan varietas mas koki yang satu dengan varietas lainnya, sehingga dapat diharapkan terbentuk varietas mas koki baru.

Perkawinan Sederhana (Tradisional)

Sebagian besar petani ikan hias masih mengawinkan mas koki dengan teknik sederhana. Dalam hal ini petani hanya mengandalkan faktor lingkungan untuk menimbulkan rangsangan kawin bagi induk mas koki. Sebelum mengawinkan mas koki, petani biasanya akan menata terlebih dahulu kolam atau wadah yang akan digunakan. Penataan harus dilakukan sedemikian rupa agar ikan terangsang untuk melakukan aktivitas perkawinan. Penataan kolam atau wadah pemijahan dapat diatur menyerupai kondisi alami di mana induk mas koki biasanya melakukan perkawinan. Pasangan induk mas koki yang diketahui matang kelamin dan siap untuk dikawinkan segera dimasukkan kekolam atau wadah perkawinan. jka kondisi lingkungan cukup menunjang, maka pada sore hingga malam hari kedua induk mas koki tersebut akan saling mengejar dan pada pagi harinya sudah dapat dijumpai telur-telur mas koki yang menempel pada enceng gondok atau kakaban.

Teknik Perkawinan

Teknik perkawinan mas koki di kolam dapat dilakukan dengan teknologi sederhana maupun modern. Pada prisipnya, kedua teknologi perkawinan ini bertujuan untuk mempertemukan kedua induk mas koki, sehingga telur yang dihasilkan oleh induk betina dapat dibuahi oleh sperma dari induk jantan.

Wadah Untuk Perkawinan Ikan Mas Koki

Wadah perkawinan ini bisa berupa bak-bak kecil atau akuarium ukuran agar besar. Ukuran bak yang digunakan cukup sekitar 2 X 1 X 0,6 meter atau menggunakan akuarium berukuran 0,8 X 0,4 X 0,4 meter agar lebih mudah pengontrolannya.

Adapun persiapan yang harus dilakukan pada wadah perkawinan ini adalah:



A.  Pengeringan Wadah
     Tujuan utama pengeringan adalah untuk mematikan siklus hidup berbagai penyakit yang mungkin terdapat di kolam. Biasanya kolam yang telah dikeringkan dan diisi air kembali akan muncul oroma tertentu yang dapat merangsang induk ikan untuk melakukan aktivitas perkawinan. Air yang digunakan untuk mengisi kolam lebih baik air yang berasal dari sumur, karena tidak mengandung unsur-unsur yang berbahaya bagi kehidupan ikan. Apabila terpaksa menggunakan air sungai yang keruh atau menggunakan air ledeng (PAM), lebih baik air diendapkan dulu ditempat terbuka supaya air terkena sinar matahari dan kotorannya mengendap. Penampungan air juga dimaksudkan untuk menyesuaikan temperatur, menetralkan pH air dan menurunkan kandungan karbon diosida. Proses penampungan dan pengendapan air lebih baik dilakukan selama 1 - 2 hari agar air menjadi benar-benar jernih dan bersih.

B.  Pencegahan Lumut
     Adanya lumut yang tumbuh didalam wadah sangat merugikan. Selain tampak kotor, anak-anak mas koki yagn disahilkan dapat mengalami kekurangan oksigen atau mati terjerat oleh lumut. Untuk membasmi lumut tersebut dapat digunakan RIDALL yang banyak dijual di toko ikan hias. Dapat juga digunakan beberapa tetes aquadin. Tindakan yang tanggap lebih efektif adalah menguras wadah setiap 15 hari sekali.

C.  Pencegahan Jamur
     Jamur merupakan organisme yang biasa menyerang telur-telur ikan, terutama pada saat kondisi air dikolam kurang memenuhi syarat. Bila suhu air sangat rendah, proses penetasan telur akan berjalan lambat. Bahkan tidak jarang telur akan menjadi busuk sehingga merupakan media yang baik bagi pertumbuhan jamur. Jamur yang tumbuh dengan subur akan menyerang telur-telur yang ada disekitarnya, sehingga telur-telur tersebut akhirnya akan mati. Untuk mencegah timbulnya jamur di kolam, sebaiknya digunakan methylen blue yang diteteskan dengan konsentrasi 0.0005 - 0.001 persen untuk setiap meter kubik air. Cara membuatnya adalah dengan melarutkan 1 methylen blue ke dalam 100 ml air bersih sehingga terbentuk larutan dengan konsentrasi 1 persen. Untuk mendapatkan konsentrasi 0.001  persen per meter kubik air, cukup dengan mencampur 1.000 ml methylen blue berkadar 1 persen kedalam 1000 liter air kolam. Sedangkan untuk mendapatkan konsentrasi 0.0005 persen per meter kubik air, cukup dengan mencampur 500 ml ke dalam 1000 liter air kolam. Untuk lebih praktisnya, setiap satu meter kubik air ditetesi 5 - 10 gram methylen blue.
D.  Penyediaan Media Penempel Telur
     Seperti sudah dijelaskan sebelumnya, bahwa telur mas koki mempunyai sifat menempel (adhesif) pada benda-benda yang berada disekitarnya. Dengan demikian kolam yang digunakan untuk mengawinkan mas koki perlu dilengkapi dengan media tempat menempelnya telur, baik media alami maupun buatan. Batu-batuan, rumput-rumputan maupun tanaman air lainnya dapat digunakan untuk media menepelkan telur. Jenis tanaman yang umum digunakan adalah enceng gondok (Eichornia crassipes) yang telah dibersihkan akarnya dari lumpur maupun kotoran lainnya. tanaman enceng gondok juga berfungsi untuk menciptakan suasana romantis bagi mas koki sehingga akan mempercepat proses pemijahan.Sebelum digunakan untuk tempat menempelkan telur sebaiknya enceng gondok direndam dahulu dengan larutan kalium permanganat selama beberapa menit untuk membunuh penyakit atau parasit yang mungkin ada. Media lain yang biasa digunakan untuk menempelkan telur mas koki adalah kakaban. kakaban terbuat dari ijuk yang terjepit bambu. Panjang ijuk kurang lebih 50 cm sedangkan panjang bambu berkisar antara 150 - 200 cm. Kadang-kadang peranan ijuk diganti dengan benang rafia yang sengaja disikat agar seratnya menjadi kecil-kecil dan halus.

Dibandingkan dengan kakaban ijuk/rafia, penggunaan enceng gondok lebih dapat memberikan beberapa keuntungan lain, yaitu:
  1. Akar tanaman enceng gondok yang menjulur ke dalam air akan memudahkan induk mas koki untuk menemplekan telurnya. Dengan demikian jumlah telur yang dapat menempel akan lebih banyak, sehingga telur yang jatuh ke bawah dapat ditekan.
  2. Akar tanaman enceng gondok cukup lentur dan lunak sehingga dapat mencegah terjadinya luka-luka pada tubuh induk mas koki yang dikawinkan.
  3. Daun tanaman enceng gondok yang cukup lebat akan mampu melindungi telur dan benih mas koki yang masih peka terhadap derasnya air hujan maupun terik matahari.
E.  Pemasukan Induk Mas Koki Ke Kolam Perkawinan 
     Apabila kolam perkawinan sudah disiapkan, maka pada pagi harinya pasangan mas koki yang telah birahi segera dimasukkan. Jumlah induk yang dimasukkan sebaiknya sepasang saja, karena mas koki cenderung akan memberikan hasil lebih baik bila dikawinkan dengan perbandingan satu ekor jantan dan satu ekor betina. Namun beberapa petani tertentu sering dengan sengaja menggunakan dua atau tiga induk jantan dalam satu kolam. Hal ini dilakukan terutama bila induk mas koki betina belum benar-benar matang kelamin. Diharapkan dengan menggunakan induk jantan lebih dari satu dpat memberikan rangsangan yang cukup memadai bagi induk betina untuk melepaskan telur-telurnya. Setelah induk mas koki dimasukkan pagi harinya, sekitar pukul 17.00 barulah tanaman enceng gondok atau kakaban dimasukkan. Tanaman enceng gondok diletakkan dengan cara menaruhnya dipermukaan air. Sedangkan kakaban diberi pemberat pada kedua ujungnya agar dapat tenggelam sekitar 10 cm dibawah permukaan air.

Bila induk mas koki benar-benar birahi, semalam suntuk mereka akan saling kejar-mengejar. Biasanya induk jantan akan mengejar induk betina sambil menggosok-gosokkan mulut dan tubuhnya ke seluruh tubuh induk betina, terutama bagian perut. pada suatu saat, tiba-tiba induk betina mengeluarkan telur-telurnya ke enceng godok atau kakaban. Bersamaan dengan itu, induk jantan juga mengeluarkan spermanya untuk membuahi telur tersebut. Proses pengeluaran telur biasanya berlangsung sejak fajar menyingsing hingga terbit matahari. Umumnya induk betina mengeluarkan sebagian telurnya dan segera akan dibuahi oleh sperma dari induk jantan. Selanjutnya, setiap 7 - 20 hari kemudian,. induk betina akan mengeluarkan kembali telur-telurnya. Proses pengeluaran telur dapat berlangsung beberapa kali sampai telur yang dikandungnya benar-benar habis. Jumlah telur yang dikeluarkan tidak sama, yaitu antara 3000 -  5000 butir pada periode pertama maupun kedua dan pada periode berikutnya akan semakin berkurang.

Setelah proses perkawinan selesai, sebaiknya tanaman enceng gondok atau kakaban segera diperiksa untuk memastikan apakah sudah ada telur yang menempel atau belum. Sebab, mungkin saja kedua induk mas koki kejar-kejaran semalam suntuk tetapi tidak terjadi perkawinan. Pemeriksaan telur dapat dilakukan dengan cara mengangkat tanaman enceng gondok atau kakaban secara hati-hati, agar telur yang telah menempel tidak rontok atau rusak. Telur-telur yang telah dibuahi oleh sperma jantan akan terlihat transparan dengna inti telur yang nampak jelas dibagian tengah. Dalam perkembangannya telur yang telah dibuahi secara lambat laun akan berubah menjadi buram. Telur yang gagal dibuahi akan mempunyai membran yang buram (putih keruh), di mana inti telur tidak terlihat dengan jelas. Telur demikian biasanya akan mati dan membusuk sehingga merupakan media yang baik bagi pertumbuhan jamur.

Agar telur tidak dimakan oleh induk mas koki, sebaiknya tanaman enceng gondok atau kakaban yang telah berisi telur segera dipindahkan secara hati-hati ke kolam penetasan dan setelah itu pada kolam perkawinan segera diletakkan kembali tanaman enceng gondok atau kakaban yang baru untuk tempat menempelkan telur yang akan dikeluarkan beberapa hari kemudian. Cara lain untuk mencegah telur-telur dimakan kembali oleh induknya adalah dengan memindahkan kedua induk mas koki ke kolam perkawinan lain yang telah dilengkapi dengan tanaman enceng gondok atau kakaban.

Pemilihan Induk Mas Koki

Keberhasilan perkawinan dan hasil yang didapat sangat dipengaruhi oleh kondisi induknya. Dengan demikian pemilihan induk mas koki yang memenuhi syarat adalah sangat penting. Adapun syarat-syarat induk mas koki yang untuk dijadikan indukan adalah:
  1. Umurnya telah cukup dewasa dan matang kelamin;
  2. Sehat dan tidak  mengalami stress;
  3. Tubuhnya tidak luka;
  4. Tidak sedang terserang penyakit atau parasit;
  5. Tubuhnya normal dan tidak cacat.
Di kalangan petani ikan hias umur induk mas koki yang dikatakan dewasa masih simpang siur. Tetapi berdasarkan pengalaman, mas koki yang telah mencapai umur 7 bulan sudah cukup dewasa untuk dikawinkan. Namun, para pakan perikan menganjurkan agar menggunakan induk jantan yang telah mencapai umur 2 tahun, sedangkan untuk betina telah mencapai umur 2 - 3 tahun. Untuk harga induk mas koki yang sudah cukup umur berkisar antara Rp 150.000 setiap pasangnya, tergantung dari jenis, ras, warna, ukuran dan kondisi ikan (meliputi keutuhan sirip, sisik, mata serta aktivitasnya). Untuk induk yang berasal dari luar negeri harganya jauh lebih mahal, yaitu berkisar antara Rp 500.000 sampai Rp 700.000 setiap pasangnya.

Agar tidak salah memilih induk yang cukup umur dan memenuhi syarat, sebaiknya minta bantuan sama penjualnya. Jangan memilih induk yang terlalu besar, karena dikhawatirkan sudah terlalu tua dan jarang mau bertelur lagi. Keindahan mas koki terletak pada bentuk dan warna tubuhnya, oleh karena itu kedua hal tersebut  sering dijadikan parameter dalam pemilihan induk.

Berikut ini disajikan beberapa petunjuk yang dapat digunakan sebagai patokan dalam pemilihan induk, yaitu:

1. Bentuk Kepala
JIka mas koki termasuk golongan berjambul, sebaiknya dipilih induk yang memiliki ukuran kepala agak besar. Apabila tidak memiliki jambul, induk yang dipilih sebaiknya mempunyai ukuran kepala yang relatif kecil. Jambul mas koki sebaiknya dipilih yang besar, tinggi, lebar dan lebar.

2. Bentu Badan
Bentuk badan mas koki yang disukai oleh pembeli adalah mendekati bujur sangkar, kecuali jenis mas koki mutiara yang berbentuk bola.

3. Bentuk Sirip Ekor
Sirip ekor yang dianggap baik oleh penggemar mas koki adalah bentuk ekor yang sempurna, tidak sobek-sobek, terdiri dari empat bagian dan posisinya mekar. Selain terdiri dari empat bagian, ukuran sirip ekor harus serasi dengan besarnya tubuh ikan.

4. Gerakan Tubuh
Gerakan tubuh mas koki saat berenang harus wajar dan stabil. Jangan memilih induk yang gerakannya malas atau sulit bergerak. Mas koki yang gerakannya menyentak-nyentak atau miring, jangan digunakan  sebagai indukan.

5. Warna Tubuh
Pada mas koki yang hanya memiliki satu warna dominan, maka warna tersebut harus cerah dan tidak kusam. Bila tubuhnya terdiri dari kombinasi sejumlah warna, masing-masing warna harus mempunyai perbandingan yang seimbang.

Selain Umur, bentuk dan warna tubuh, penentuan jenis kelamin induk mas koki juga harus dilakukan dengan cermat. Jangan sampai terjadi kedua induk memiliki jenis kelamin yang sama. Mas koki yang telah berumur 7 bulan sudah dapat dibedakan jenis kelaminnya secara skunder, yaitu:
  • Ambillah seekor mas koki yang telah cukup umur dan kemudian perhatikan jari-jari pertama dari sirip dadanya (pectoral fin). Apabila jari-jari tersebut agak keras dan terdapat bintik-bintik putih yang tersusun secara teratur di sepanjang tulang jari-jari tersebut, sudah dapat dipastikan kalau mas koki itu berjenis kelamin jantan. Sedangkan mas koki betina, jari-jari pertama dari sirip dadanya relatif lebih lunak dan tidak berbintik-bintik (polos).
  • Induk mas koki betina mempunyai perut yang lebih besar bila dibandingkan dengan mas koki jantan.
  • Cara lain untuk menentukan jenis kelamin mas koki adalah dengan melihat bentuk tubuhnya. Mas koki dengan punggung yang agak melengkung biasanya berjenis kelamin betina. Sedangkan mas koki jantan mempunyai punggung yang agak mendatar dan tubuhnya lebih panjang bila dibandingkan dengan tubuh mas koki betina.
Untuk memastikan induk betina sudah siap dikawinkan, dapat diuji dengan meraba perut bagian bawah. Jika perut yang gendut tersebut masih terasa agak keras, berarti belum siap untuk dikawinkan karena telurnya masih belum benar-benar matang. Sebaliknya apabila perut terasa agak lunak berarti telur induk mas koki betina telah siap untuk dikawinkan. Ciri lain induk mas koki betina yang telah siap untuk dikawinkan adalah perut yang membesar telah membentuk huruf "U", gerakan berenangnya agak lamban dan lubang kloakanya berwarna agak kemerahan.

Sebelum dikawinkan sebaiknya mas koki betina dipisahkan selama kurang lebih satu bulan. Tujuan pemisahan ini adalah untuk menimbulkan rangsangan yang cukup besar untuk melakukan perkawinan. pada unit perkolaman yang mempunyai saluran air saling berhubungan satu sama lain (sistem seri), sebaiknya induk betina ditaruh pada kolam bagian hulu. Sebelum menjalani perkawinan sebaiknya kedua induk mas koki di amati secara cermat untuk menghindari terjangkitnya penyakit atau parasit yang kemungkinan besar akan menggagalkan usaha perkawinan. Induk yang terserang penyakit atau parasit cenderung menghasilkan keturunan yang kurang sehat karena kemungkinan besar akan terjangkit penyakit atau parasit yang sama. Induk yang nyata terserang penyakit sebaiknya cepat-cepat diobati sampai benar-benar sembuh sebelum dikawinkan. Sedangkan bagi induk yang tidak mengalami serangan sebaiknya diberikan perlakuan tertentu untuk mencegah terjadinya penularan, misalnya dengan perendaman pada larutan Kalium permanganat atau tetrasiklin.

Beberapa minggu sebelum dan selama perkawinan, induk mas koki sebaiknya diberikan makanan berupa jentik nyamuk atau pellet. Usahakan agar jangan memberikan makanan berupa cacing air (tubifex), karena diduga akan tertutupnya lubang kloaka sehingga telur tidak dapat dikeluarkan dan akhirnya akan menyebabkan kematian induk mas koki.

Perkawinan (Pemijahan) Ikan Mas Koki

Perkawinan merupakan salah satu ciri dari suatu makhluk hidup. Aktivitas ini dilakukan untuk mempertahankan kelestarian golongannya. Keberhasilan suatu perkawinan pada ikan sangat tergantung dari kondisi lingkungan di sekitarnya. Jika kondisi lingkungan kurang menunjang, besar kemungkinan perkawinan akan mengalami kegagalan. Oleh karena itu, petani ikan perlu mempelajari terlebih dahulu mengenai tingkah laku ikan sebelum melakukan praktik mengawinkan ikan di kolam.

Menurut petani ikan, mas koki merupakan salah satu jenis ikan hias yang mudah dikawinkan. Cukup dengan menyediakan induk matang kelamin dan kondisi lingkungan kolam yang cukup menunjang, maka besar kemungkinan perkawinan mas koki akan berhasil. Tentu saja peranan manusia benar-benar sangat diperlukan dalam mengawinkan mas koki di kolam. Dalam hal ini, petani ikan harus mampu menentukan induk mas koki yang dapat dikawinkan, mempersiapkan wadah perkawinan, dan menentukan metode perkawinan yang akan digunakan.

Dasar Kolam

Dasar kolam sebaiknya kompak (padat) dan tidak kasar atau tajam. Dasar kolam yang tidak kompak, misalnya dari lumpur atau pasir, dianggap kurang menguntungkan, sebab akan diaduk oleh mas koki sehingga membuat keruh air kolam. Kekeruhan ini sering menyebabkan terhambatnya pertumbuhan organisme alami dan gagalnya penetasan telur. Hal ini cukup beralasan, karena penetrasi cahaya matahari ke dalam kolam menjadi terhambat oleh adanya pertikel lumpur atau pasir yang mengapung. Kekeruhan air yang diakibatkan lumpur atau pasir dapat menyebabkan penyumbatan ada insang ikan sehingga akan menyebabkan kesulitan bernafas, terutama pada golongan larva.

Selain padat permukaan dasar dan dinding kolam tidak boleh terlalu kasar atau tajam. Karena sering menyebabkan luka-luka pada tubuh mas koki. Hiaslah kolam atau akuarium dengan pasir yang kasar dan kerikil yang mempunyai bentuk agak membulat agar tidak menimbulkan kekeruhan atau luka pada tubuh mas koki.

Sistem Pengairan Air Kolam

Air merupakan salah satu komponen utama dalam budidaya ikan, karena berperan sebagai media hidup. Selain itu, air juga berfungsi sebagai:

-  Media untuk menyebarkan makanan, oksigen dan suhu ke seluruh bagian kolam;
-  Media untuk mengeluarkan kotoran dan sisa makanan yang ada di kolam.

Air dengan kuantitas dan kualitas memadai merupakan idaman bagi setiap petani ikan. Bagi usaha perikanan yang berlokasi di dekat air hal tersebut bukan merupakan masalah, lain halnya dengan lahan usaha perikanan yang berlokasi di perkotaan, di mana air merupakan komoditi yang harus dibeli. Dengan demikian perlu dipikirkan mengenai sistem pengaliran yang sesuai. Sebaiknya budidaya ikan dilaksankan dengan sistem resirkulasi. Pada sistem ini, air yang telah digunakan untuk memelihara ikan tidak langsung dibuang, tetapi dimanfaatkan kembali setelah proses tertentu. Dengan demikian air dapat digunakan untuk memelihara ikan secara berlurang-ulang tanpa harus merasa khawatir terjadi penurunan kualitas. Penambahan air hanya dilakukan untuk mengganti yang hilang karena penguapan.

Beberapa keuntungan yang dapat diperoleh dengan menerapkan sistem resirkulasi dalam pemeliharaan ikan hias adalah:
  1. Volume air yang digunakan tidak terlalu besar karena air dapat dipergunakan secara berulang-ulang.
  2. Kualitas air selala terjaga dalam kondisi baik, sehingga pertumbuhan ikan menjadi optimal. Hal ini juga sangat terasa terutama pada saat pemeliharaan larva, karena larva sangat peka terhadap perubahan kondisi lingkungan perairan.
  3. Waktu yang diperlukan untuk memulihkan kondisi induk agar siap dipijahkan kembali menjadi relatif lebih singkat.
  4. karena kualitas air yang selalau terjamin, kemungkinan ikan untuk terserang penyakit atau parasit  menjadi kecil. Dengan demikian, angka kematian ikan dapat terus ditekan sampai titik yang rendah.
Untuk melaksanakan sistem resirkulasi dengan skala besar, diperlukan sejumlah bak yang berukuran relatif kecil dibandingkan dengan kolam budidaya. Bak ini akan berfungsi sebagai bak pengendapan, penyaringan dan penampungan. Pada unit usaha dengan skala lebih kecil, fungsi bak-bak tersebut dapat digabungkan menjadi satu.

Perlengkapan yang diperlukan untuk menunjang sistem resirkulasi adalah pompa air dan penyaring (filter). Pompa air digunakan untuk mengalirkan air dari bak penampungan ke kolam budidaya. Kekuatan pompa sebaiknya disesuaikan dengan debit air yang ingin dihasilkan. Pompa air sederhana yang sering digunakan oleh petani adalah RENA tipe 301 dengna kemampuan mengalirkan air kurang lebih sebanyak 10 liter setiap menitnya. Untuk menghasilkan debit air yang lebih besar, dapat digunakan hand pump atau pompa sanyo.

Filter (penyaring) digunakan untuk menyaring air dengan tujuan agar kororan, sisa makanan dan pertikel lain yang mencemari air dapat dipisahkan. Secara garis besarnya, filter yang baik terdiri dari komponen penyaring dan komponen pengendali kualitas air. Komponen penyaring terdiri dari pasir halus, ijuk, kerikil, dan pecahan genting. Fungsinya adalah untuk memisahkan air dari komponen yang mencemarinya. Sedangkan komponen pengendali mutu terdiri dari pecahan kulit kerang untuk mengikat kelebihan ion H+ di dalam air sehingga pH air kembali menjadi netral. Komponen pengendali mutu lainnya adalah orang yang berfungsi untuk mengikat atau menetralkan senyawa-senyawa beracun yang dapat mempengaruhi kehidupan kita.

Saluran Air Untuk Kolam Mas Koki

Saluran air berfungsi dalam menjaga kualitas dan kuantitas air di kolam.  Di dalam budidaya ikan, saluran air harus mampu menjamin arus lalu lintas air di kolam dan mempertahankan kualitas air agar tetap memenuhi syarat. Berdasarkan fungsinya, dikenal ada dua macam saluran air, yaitu saluran pemasukan dan saluran pengeluaran. Jika saluran pemasukan berfungsi untuk mengalirkan air ke dalam kolam, sedangkan saluran pengeluaran mengeluarkan air dari kolam menuju saluran pembuangan. Untuk menjaga kestabilan volume air di dalam kolam, keseimbangan debit air yang mengalir atau bergerak pada kedua saluran harus dijaga.

A.   Saluran Pemasukan

      Beberapa fungsi utama yang dimiliki saluran ini adalah:
  •  Menjaga agar volume air di dalam kolam, konstan;
  •  Menghanyutkan hasil metabolisme dan sisa makanan;
  •  Sebagai sumber oksigen, karena air dari sumber yang masuk ke kolam mengandung oksigen;
  •  Mempertahankan suhu optimum di kolam.
 
Volume di kolam dapat berkurang karena penguapan oleh sinar matahari, perembesan pada dinding-dinding kolam atau karena sebab lainnya. Berdasarkan pernyataan tersebut, maka saluran pemasukan harus dapat mengganti volume air yang hilang karena sebab-sebab di atas. Dengan adanya saluran pemasukan ini dapat juga menghanyutkan gas-gas beracun dan serta organisme penyakit maupun parasit ke luar dari kolam. Besarnya debit air yang diperlukan dalam budidaya ikan bergantung pada jenis dan ukuran ikan yang dipelihara. Ikan yang mempunyai sifat senang terhadap arus air (reotaksis positif) dapat hidup baik pada kolam yang mempunyai debit air yang relatif besar. Mas koki termasuk ke dalam jenis ikan reotaksis positif , namun tidak memiliki tubuh streamline (bentuk yang mudah bergerak di dalam arus) dan gerakannya relatif lambat, maka mas koki tidak bisa hidup dengan baik di dalam kolam yang debit airnya terlalu besar.

Ikan yang berukuran kecil umumnya mempunyai kemampuan renang yang rendah, sehingga tidak memerlukan debit air yang besar. Semakin besar ikan semakin besar pula debit air yang dibutuhkan. Besarnya debit air untuk mas koki adalah berkisar antara 3 - 7 liter/menit untuk kolam seluas dua meter persegi. Saluran pemasukan juga berfungsi sebagai salah satu sumber penghasil oksigen, sehingga kadar oksigen yang terlarut di dalam kolam dapat terus dipertahankan pada tingkat yang tidak membahayakan kehidupan mas koki. Hal ini dapat diupayakan dengan merancang bentuk saluran pemasukan, agar mempunyai bidang kontak yang luas antara air dengan udara. Bidang kontak berguan untuk memberi kesempatan pada air untuk mengikat oksigen di udara. Semakin luas bidang kontak, maka semakin besar pula kesempatan bagi air untuk mengikat oksigen yang bebas di udara. Berkaitan dengan keperluan tersebut, saluran pemasukan dirancang sistem air terjun, sistem monik dan sistem air mancur.

Oksigen yang dikandung oleh air kolam dapat berkurang oleh adanya aktivitas (kegiatan) metabolisme yang dilakukan oleh penghuni kolam. Baik ikan, tanaman maupun makhluk hidup lainnya. Apabila jumlah oksigen di dalam air tidak bertambah (konstan), maka semakin lama akan semakin berkurang dan ikan yang dibudidayakan akan menghadapi kematian. Manfaat lainnya, saluran air dapat menjaga kestabilan suhu lingkungan, karena air yang mengalir dapat memelihara suhu optimum yang penting dalam pembudidayaan ikan, khususnya ikan mas koki. Perubahan suhu (fluktuasi suhu) sering terjadi pada kolam yang airnya tidak mengalir. Ternyata, hal demikian hampir tidak pernah dijumpai pada kolam yang mempunyai saluran pemasukan, karena adanya aliran air dengan suhu yang relatif konstan.

B.   Saluran Pengeluaran

      Fungsi saluran pengeluaran adalah:
  •  Mengalirkan kelebihan air kolam, baik karena adanya saluran pemasukan, hujan atau sebab lainnya;
  •  Menghanyutkan kotoran dan sisa makanan yang berada di kolam;
  •  Mengatur tinggi permukaan air di kolam.
Untuk dapat menjalankan peranannya dengan sebaik mungkin, saluran pengeluaran harus dirancang agar mampu mengalirkan (mengeluarkan) air yang terdapat di dasar kolam. Hal ini disebabkan, air yang ada di bagian dasar kolam cenderung menjadi tempat berkumpulnya kotoran dan sisa makanan ikan yang mengendap. Bentuk saluran pengeluaran yang banyak digunakan oleh petani ikan dan penggemar mas koki antara lain berupa sistem pipa paralon, sistem monik dan sistem putar.

Air Untuk Kolam Ikan Mas Koki

Air merupakan media utama dalam pemeliharaan ikan, begitu pula dengan mas koki. Selain untuk mendukung tubuhnya, air juga berfungsi sebagai mendistribusi (menyebarkan) makanan serta oksigen. Bahkan dengan dengan tehnik tertentu air dapat digunakan untuk membersihkan kolam dari kotoran hasil metabolisme atau sisa makanan. 

Air untuk memelihara ikan sebaiknya diperoleh dari secara alamiah dari sungai, sumur, hujan, sumur bor, dan sebagainya. Untuk daerah perkotaan, air yang berasal dari Perusahaan Air Minum (PAM) dapat juga digunakan untuk budidaya ikan. Tidak semua air yang tampak bersih bisa dimanfaatkan untuk memelihara mas koki, begitu pula untuk ikan-ikan lainnya. Ada sejumlah syarat tertentu yang harus dipenuhi agar pembudidayaan ikan dapat berlangsung baik, selain air bersih.

a.   Derajat Keasaman
    Air yang bersifat netral atau sedikit basa dapat digunakan dengan aman. Air dengan derajat keasaman (pH) 6,5 - 8,5 sangat cocok untuk membudidayakan ikan mas koki. Di atas atau dibawah angka tersebut, air bersifat sangat asam dan basa, dapat membahayakan kelangsungan hidup mas koki yang dipelihara.

b.   Kadar Garam
     Kandungan garam yang rendah tidak membahayakan kesehatahn mas koki, asalkan tidak melebihi 1%. Kadar garam yang terlalu tinggi dapat mengganggu proses osmoregulasi di dalam tubuh makhluk hidup.

c.   Penambahan Zat Kimia
    Air yang diperoleh dari PAM telah mendapat tambahan desinfektan tertentu dengan didasarkan pada standar tertentu, sehingga tidak membahayakan kehidupan manusia yang memanfaatkannya. Namun tidak dengan mas koki. Asam hidrokhlorin atau khlorin untuk menghilangkan kandungan alum dan blue vitriol untuk membasmi organisme-organisme (makhluk-mahkluk hidup) yang mengapung di permukaan air, kadang-kadang ditambahkan pula ke dalam air. Bahan-bahan kimia tersebut sangat berbahaya untuk mas koki yang masih kecil maupun yang sudah dewasa. Bila berada dalam jumlah yang berlebihan, bahan-bahan kimia dapat menimbulkan kematian pada mas koki. Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan lebih baik air yang didapat dari PAM tidak langsung digunakan untuk memelihara mas koki. Air tersebut hendaknya diendapkan dahulu selama paling cepat sehari semalam. Pilihan lain adalah membiarkan air terbuka di bawah sinar matahari selama 3 - 4 jam.

d.  Oksigen
     Persedian oksigen di dalam air yang digunakan untuk memelihara mas koki harus tercukupi, karena oksigen sangat diperlukan untuk kelangsungan proses matebolisme. Pengadaan oksigen dapat diupayakan dengan menanam tumbuhan hijau atau dengan bantuan earator (air pumpa), sehingga oksigen yang terlarut di dalam air kolam dapat ditingkatkan. Namun seperti kita ketahui, tanaman hijau pada malam hari akan menggunakan oksigen yang ada sekitarnya, sehingga mengurangi jumlah oksigen yang tersedia. Untuk menghidarkan mas koki dari masalah kekurangan oksigen pada malam hari, maka luas permukaan kolam yang ditutup oleh tumbuhan hijau tidak lebih dari sepertiga luas permukaan kolam mas koki. Namun bila hal itu tidak memungkinkan, misalnya karena pertumbuhan tanaman yang terlalu cepat atau sukarnya pengendalian jumlah tanaman hijau di kolam sehingga benar-benar merupakan sepertiga bagian permukaan kolam, maka penggunaan aerator dapat membantu.

e.   Pencemaran Air
     Pencemaran air yang disebabkan oleh hasil eksresi (proses pengeluaran zat yang tidak digunakan oleh tubuh) dan sisa makan dari mas koki, dapat menurunkan kualitas air. Penimbunan polutan (zat yang menyebabkan terjadinya pencemaran), dapat menyebabkan berkembangnya saprofit (organisme pengurai). Saprofit ini akan menguraikan kedua komponen, yaitu hasil eksresi dan sisa makanan, kemudian sebagai hasil aktivitasnya ini menghasilkan gas-gas beracun yang sangat membahayakan kehidupan mas koki. Karena itu harus segera mengganti air kolam untuk mencegah keracunan pada mas koki dan organisme lainnya.

Bahan dan Bentuk Kolam Untuk Ikan Mas Koki

Kolam dapat dibuat dari bahan apa saja, sesuai dengan biaya dan bahan yang tersedia, misalnya semen, batu, bata, kayu, plastik atau kaca. Untuk membudidayakan ikan mas koki, semua jenis bahan tersebut di atas dapat digunakan karena tidak berpengaruh buruk pada pertumbuhan.

Bentuk kolam dapat dirancang sesuai keinginan kita. Menurut hasil penelitian, ternyata kolam berbentuk bulat lebih menguntungkan dibandingkan dengan kolam berbentuk persegi atau bentuk yang lainnya. 
Keuntungan yang dimiliki kolam yang berbentuk bulat ini adalah:

a.   Kolam bulat tidak mempunyai sudut mati, sehingga sirkulai (peredaran) air dapat mencapai ke seluruh bagian kolam. Sirkulasi yang baik dapat mencegah penimbunan kotoran maupun sisa makanan, suatu hal yang tidak dijumpai pada kolam persegi (kolam yang mempunyai sudut). Penimbunan kotoran dan sisa makanan didasar kolam dapat menurunkan kualitas air dan akan berpengaruh buruk bagi pertumbuhan ikan, bahkan kadang-kadang menimbulkan kematian massal terhadap ikan yang dipelihara.
b.  Sirkulasi air pada kolam bulat mampu menyebarkan makanan dengan baik dan merata, begitu pula dengan oksigen, ke seluruh bagian kolam.
c.   Kolam bulat mampu mencegah timbulnya kerusakan fisik pada ikan yang dipelihara di dalamnya.

Bila ditinjau dari efisiensi penggunaan lahan, ternyata kolam persegi lebih menguntungkan. Karena itu, untuk mendapatka keuntungan yang maksimal, petani ikan memilih untuk memodifikasi kolam persegi dengan mengganti semua sudutnya menjadi bulat (lengkung). kolam seperti ini dianggap paling menguntungkan. Selain bulat dan persegi, kolam lonjong atau tidak beraturan sangat menarik digunakan ditaman-taman sebagai hiasan. Namun kolam dengan bentuk tidak beraturan ini sangat sulit untuk dibersihkan. 

Ukuran kolam bervariasi, bergantung pada fungsi yang dikehendaki. Untuk mas koki, dapat dibuat dengan ukuran      2 X 4 meter, sebagai tempat pemeliharaan induk mas koki dengan daya tampung 25 - 30 ekor induk. kolam untuk induk jantan hendaknya dipisahkan dengan kolam untuk induk betina, guna menghindari perkawinan yang tidak dikehendaki. Apabila kolam-kolam yang ada hanya mempunyai satu saluran air, induk betina sebaiknya ditempatkan pada bagian hulu.

Kolam untuk keperluan pemijahan (perkawinan) dapat dibuat dengan ukuran yang lebih kecil, 1 X 2 meter untuk untuk sepasang induk mas koki. Bila pemijahan ini dilakukan di dalam akuarium, maka diperlukan akuarium dengan ukuran 80 X 40 X 40 cm.

Kolam untuk pembesaran dibuat dengan ukuran 3 X 5 meter. karena kolam yang terlalu luas sulit untuk pengontrolannya, maka apabila induk yang dipijahkan cukup banyak, sebaiknya dibuat beberapa kolam pembeseran dengan ukuran masing-masing 3 X 5 meter.

Beberapa petani membuat kolam dengan ukuran yang sama, baik untuk pemeliharaan induk, pemijahan maupun kolam untuk pembesaran. Mereka beranggapan bahwa kolam permanen (tetap) yang sesuai untuk mas koki berukuran 1 - 2 meter persegi. Tetapi kolam yang tidak permanen (mudah dipindahkan), misalnya akuarium atau bak, luasnya jangan melebihi satu meter persegi. Bila kolam dibangun secara permanen di atas sebidang tanah, kedalaman air yang ideal adalah sekitar 30 cm di bagian tengah kolam 10 - 15 cm di tepi. Bentuk seperti ini erat kaitannya dengan masalah drainage kolam. Untuk keperluan drainage dapat juga dibuat beberapa saluran dengan lebar 30 cm dan dalam 5 - 6 meter. Selain itu sebaiknya juga dibuat jalan air (spill way) untuk membuang kelebihan air terutama pada saat hujan turun, atau bila permukaan air kolam meningkat karena sebab lain. Dengan demikian, spill way akan meringankan tugas saluran pengeluaran khususnya pada saat air sedang melimpah.

Bagian dasar kolam intensif untuk mas koki sebaiknya datar (rata) dan agak miring sedikit ke arah saluran pengeluaran.Bentuk permukaan dasar yang demikian mempermudah pengeringan dan pembersihan kolam. Kolam yang baru selesai dibangun sebaiknya tidak langsung diisi dengan mas koki, tetapi hendaknya direndam dahulu dengan air dalam waktu tertentu. Misalnya kolam dari kayu direndam selama setengah bulan, kolam dari semen setelah dikeringkan kemudian direndam selama 1 bulan. Adapun maksud perendaman kolam sebelum digunakan adalah agar tidak membahayakan kehidupan mas koki yang kelak dipelihara. Selama masa perendaman, air kolam harus sering diganti.

Letak (posisi) kolam hendaknya diatur hingga dapat menerima cahaya matahai dalam jumlah yang cukup. Sedangkan untuk kolam yang mudah dipindahkan (tidak permanen), sekali-kali perlu juga keluarkan dari ruangan agar memperoleh sinar matahari.

Pembuatan Kolam Ikan Mas Koki

Kolam terdiri dari 3 jenis, yaitu:

  1. Kolam untuk pemeliharaan induk
  2. Kolam untuk pemeliharaan larva
  3. Kolam untuk pembesaran
Sebelum membuat kolam, langkah pertama adalah melakukan perencanaan yang matang. Pada dasarnya, cara pembuatan ketiga jenis kolam yang telah disebutkan di atas tidak berbeda.

Budidaya Ikan Mas Koki

Umumnya sebagian besar petani ikan hias mengatakan bahwan ikan mas koki tidak manja, karena itu ikan ini tidak sulit untuk dibudidayakan. Artinya, pembudidayaannya tidak memerlukan perlakuan yang istimewa.

Prinsip utamanya adalah mengusahakan ketenangan dan kenyamanan  bagi mas koki di tempat pembudidayaannya, misalnya akuarium, kolam dan sebagainya.

Dengan kemudahan ini, mas koki telah dijadikan pilihan oleh beberapa pegawai atau karyawan sebagai kegiatan pengisi waktu luang. Pembudidayaan mas koki - seperti juga ikan hias lainnya - memerlukan keuletan, ketekunan dan harus mengikuti prosedur yang benar agar diperoleh hasil yang terbaik.

Empat tahapan yang harus diperhatikan di dalam pembudidayaan ikan mas koki adalah :

Indera Ikan Mas Koki

Syaraf penciuman mas koki sangat tajam sehingga mampu mencari makanan dengan memanfaatkan indera penciumannya. Selain itu mas koki cukup peka terhadap getaran maupun gerakan air. Oleh karena itu mas koki sangat menyukai aliran air.

Oksigen Untuk Kehidupan Ikan Mas Koki

Mas koki sangat membutuhkan oksigen dalam jumlah bervariasi. Kebutuhan akan oksigen tergantung pada suhu lingkungan, ukuran serta aktivitas ikan. Sumber oksigen di kolam berasal dari :

  1. Aerator (pompa udara) yang biasa digunakan dalam bak tertutup atau kolam yang luas.
  2. Proses fotosintesis tanaman air yang banyak menghasilkan oksigen, kolam tradisional umumnya mengandalkan tanaman sebagai sumber oksigen.
  3. Difusi oksigen dari udara ke dalam air seperti pada sistem air deras ( ranning water).

Cahaya Untuk Menunjang Kehidupan Ikan Mas Koki

Mas koki merupakan mahkluk hidup yang cukup sensitif, terutama yang masih kecil atau sedang matang kelamin. Mas koki yang masih kecil sudah mampu membedakan kekuatan (intensitas) cahaya, tetapi belum mampu membedakan warna.

Cahaya mempengaruhi kehidupan mas koki, karena adanya cahaya yang cukup dapat mempertahankan kelangsungan hidup organisme air tawar, baik hewan atau tumbuhan air, walaupun secara tidak langsung, mas koki sangat tergantung kepada cahaya.

Makanan Untuk Ikan Mas Koki

Mas koki yang belum mencapai usia dewasa umumnya membutuhkan hewan-hewan air yang kecil sebagai makanan utamanya. Setelah dewasa mas koki akan memakan tanaman hidup yang tumbuh di lingkungan perairan tempat tinggalnya.

Kolam Untuk Ikan Mas Koki

Mas koki dapat hidup dengan baik di kolam yang berukuran luas maupun didalam bak-bak kecil. Mas koki juga dipelihara di akuarium dan gentong dari tanah liat.

Siklus Hidup Ikan Mas Koki

Siklus hidup ikan mas koki mudah diamati. Mas koki mulai berenang pada umur 2-3 hari, ketika itu ukuran tubuhnya masih sebesar jarum pentul. Tubuhnya akan terus bertambah besar. Pada usia 2 minggu mencapai ukuran 1 cm dan pada usia 1 bulan mencapai 2 cm serta mulai ditutupi oleh sisik. 

Pemijahan dapat dilakukan ketika mas koki sudah berusia 7 - 8 bulan, tetapi yang terbaik adalah hasil pemijahan yang diperoleh dari induk yang telah berumur 2 tahun.

Rata-rata umur mas koki adalah 20 tahun, bahkan pernah ditemukan mas koki dengan umur terpanjang yaitu 28 tahun.

Reproduksi Ikan Mas Koki

Pemijahan mas koki dilakukan oleh betina dengan melepaskan telur-telur secara bertahap selama periode tertentu dan kemudian dibuahi oleh sperma dari induk jantan. Pembuahan seperti yang dilakukan oleh mas koki ini dikenal dengan pembuahan eksternal, karena pembuahan sel telur oleh sperma terjadi diluar tubuh induk betina.

Waktu pengeluaran telur ke dalam air adalah pagi hari saat matahari mulai terbit dan berakhir pada siang hari. Jumlah telur yang dihasilkan bervariasi, tergantung pada ukuran induk ikan, umumnya berkisar antara 300 - 5000 butir.

Masa inkubasi telur dipengaruhi suhu lingkungan. Untuk daerah tropis, suhu optimum untuk inkubasi telur adalah 20 – 25°C, di mana pada suhu tersebut telur akan menetas setelah 4 hari. Pada suhu 27°C telur menetas setelah 3 hari, sedangkan pada suhu 13°C telur menetas setelah 5 hari. Umumnya, peningkatan suhu berakibat mempercepat penetasan, sebaliknya temperatur (suhu) yang rendah cenderung memperlambat.

Suhu Air Untuk Ikan Mas Koki

Mas koki merupakan salah satu jenis ikan yang hidup di air tawar. Meskipun cenderung hidup di air tawar yang bersuhu hangat, mas koki dapat hidup di perairan dengan suhu yang berkisar antara 12 – 30oC.
 
Di daerah yang mempunyai empat musim (musim semi, panas, gugur, dan dingin), mas koki melakukan aktivitasnya pada musim semi, yaitu ketika suhu lingkungan mencapai sekitar 12 – 20oC. Sedangkan di daerah tropis, mas koki lebih produktif karena suhu lingkungannya lebih hangat yaitu sekitar 23 – 29oC, sehingga mempu memijah sepanjang tahun.

Perubahan suhu yang terjadi secara tiba-tiba terhadap lingkungan mas koki dapat mempengaruhi kehidupan telur maupun mas koki terutama yang masih berusia muda. Perubahan suhu lebih dari 50oC yang terjadi secara tiba-tiba dapat mematikan telur-telur mas koki, sedangkan perubahan suhu melebihi 50oC akan mengakibatkan kematian bagi anak-anak mas koki.

Ikan Mas Koki Bulldog

Sesuai dengan nama yang disandangnya, raut wajah maskoki ini mengingatkan kita pada anjing jenis bulldog. Ciri-cirinya adalah matanya belang seperti mas koki teleskop sementara tubuh dan siripnya menyerupai spencer.

Ikan Mas Koki Tosakin

Jenis maskoki ini mempunyai bentuk dan warna tubuh yang tidak jauh berbeda dengan kokitosa, namun ekornya meriah seperti ekor burung merak.

Ikan Mas Koki Ekor Kipas

Ekor kipas atau fan tail, mempunyai bentuk warna tubuh yang mirip dengan kokitosa tetapi dengan sirip punggung dan ekor yang lebih pendek.

Ikan Mas Koki Celestial



Celestial juga merupakan salah satu jenis mas koki yang memiliki bentuk tubuh seperti lion head. Perbedaannya, mata mas koki jenis ini selalu mengarah ke atas seperti pada jenis buble eye. Satu lagi keunikan celestial adalah bahwa ia tidak mempunyai sirip punggung.

Ikan Mas Koki Black Moor

Bentuk tubuh mas koki black moor merupakan gabungan dari tosa dan red head. Bentuk kepalanya mirip dengan tosa sedangkan matanya agak membengkok (menonjol keluar) seperti red head. Seluruh tubuhnya berwarna hitam pekat.

Ikan Mas Koki Teleskop

Mas koki jenis teleskop mempunyai bentuk tubuh yang menyerupai kaliko, hanya saja kedua matanya agak menonjol ke luar bagaikan sebuah teropong atau teleskop.

Tubuhnya ada yang berwaran hitam pekat atau terdiri atas paduan berbagai jenis warna yang indah.

Ikan Mas Koki Red Head

Kalangan petani ikan hias lebih mengenalnya dengan julukan resket. Bentuk tubuhnya seperti lion head dengan tubuh berwarna putih dan jambul yang merah. Jambul ini tidak banyak yang dimiliki oleh lion head.

Ikan Mas Koki Bluble eye (Mata Balon)

Bentuk dan warna tubuhnya menyerupai lion head tetapi memiliki perbedaan, yaitu berupa gelembung udara seperti balon yang terdapat pada bagian bawah kedua matanya. Berdasarkan ciri khas yang dimilikinya ini, maka dianjurkan untuk tidak memelihara jenis ini pada tempat yang mengandung benda-benda tajam atau runcing.
 
Support : Digital Areas | MegaCara
Copyright © 2011. Budidaya Ikan Mas Koki - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger